Makanan Khas Lhoksukon: Cerita dari Dapur Nenek

Pulang ke Lhoksukon selalu bikin saya kangen aroma dapur nenek. Daun pandan dan rempah-rempah menyambut begitu kaki melangkah masuk. Kue Bhoi buatannya jadi kenangan pertama yang terngiang—kue kukus lembut dengan manis pas, ditemani kopi hitam pekat. Di sini, makanan bukan cuma soal rasa, tapi cerita turun-temurun yang terus hidup. Tiga hidangan ini selalu menghiasi meja makan nenek, dan inilah kisah dibaliknya.
Kue Bhoi: Manisnya Warisan Leluhur
Jujur saja, Kue Bhoi ini bikin nagih bangeet. Bahannya sederhana: tepung beras, santan, gula, plus daun pandan yang diulek halus. Nenek biasa mengukusnya pakai loyang kecil di atas kukusan bambu, sambil cerita masa muda dulu saat kue ini cuma ada di kenduri. Teksturnya yang lembut dan wangi pandan autentik bikin susah berhenti nyomot.
Rahasianya? Ngaduk adonan sampe benar-benar mengembang, lalu mengukusnya dengan api sedang. Butuh kesabaran, tapi hasilnya worth it. Seringkali saya membantu nenek mengocok adonan sampai tangan pegel, tapi lihat senyum puasnya saat kue matang sempurna—semua rasa capek langsung hilang.
Sie Reuboh: Daging Empuk Berbalut Rindu
Kalau Kue Bhoi itu manis, Sie Reuboh adalah perlambang gurihnya kenangan. Daging sapi dimasak perlahan dengan asam sunti dan cabai merah, biasanya muncul di hari raya atau kumpul keluarga. Saya suka banget liat nenek motong daging tipis-tipis, lalu merendamnya dalam bumbu halus bawang, jahe, kunyit, lengkuas.
Proses rebusannya lama bener—bisa berjam-jam sampe daging empuk dan kuahnya kental. Disajikan dengan nasi putih plus sambal hijau, rasanya itu... hmm, kayak pelukan hangat di kala hujan. Sampai sekarang, aroma Sie Reuboh masih sering muncul di mimpi saya.
Kupi Khop: Ritual Pagi yang Tak Terlupakan
Ngomongin kuliner Lhoksukon mana bisa tanpa sebutin Kopi Khop. Beda dari kopi susu biasa, minuman ini pakai gula aren dan susu kental di atasnya. Dulu saya sering nongkrong di warung kopi depan masjid, ngobrol sama pak haji sambil menyeruput Kupi Khop.
Nenek punya cara unik bikin kopi ini: sangrai biji kopi di wajan tanah liat, terus ditumbuk pake lesung. Rasanya emang rada pait awalnya, tapi begitu dicampur gula aren dan susu, langsung berubah jadi harmoni sempurna. Biasanya diminum bareng Kue Bhoi atau pisang goreng—pas banget buat temenin pagi yang dingin.
Mengulik makanan khas ini bikin saya tersadar: yang kita cicipi bukan cuma rasa, tapi jejak sejarah keluarga. Kalau suatu saat mampir ke Lhoksukon, cobalah singgah ke warung kopi tua atau dapur para nenek. Di sana, setiap hidangan punya cerita yang lebih kaya dari sekadar resep.
Untuk tahu lebih banyak soal kuliner Aceh, bisa cek artikel Wikipedia tentang masakan Aceh. Tapi percayalah, rasanya bakal beda jauh kalo diceritain langsung sama orang lokal sambil nyeruput Kupi Khop di teras rumah.